Tag: review

Jun 05

Menelaah Ranking Universitas Asia versi QS

Sejumlah kalangan akademis di Indonesia sedang heboh, sebagian senang sebagian menggerutu, terkait dirilisnya Asian University Ranking oleh QS lewat situsnya http://www.topuniversities.com. Untuk di dalam negeri, sampai tiga halaman pertama laman tersebut, ranking universitas diberikan oleh tabel berikut ini.

Ranking Universitas Klasifikasi Skor
50 Universitas Indonesia (UI) XL|FC 67.80
80 Universitas Gadjah Mada (UGM) XL|FC 54.40
86 Universitas Airlangga (UA) L|FC 52.10
98 Institut Teknologi Bandung (ITB) L|CO 47.60
128 Universitas Padjadjaran (Unpad) XL|FO 41.10
134 Institut Pertanian Bogor (IPB) L|FO 40.70

Tentu saja tabel di atas dirancang untuk dapat dipahami dengan mudah oleh para pembaca. Bahwasanya ranking menunjukkan kualitas, semakin kecil ranking berarti semakin berkualitas. Kualitas tersebut dikuantifikasi dalam bentuk skor. Artinya, di dalam negeri, QS meranking Universitas Indonesia sebagai universitas paling berkualitas dengan skor 67.80.

Namun, apakah ini berarti Universitas Indonesia lebih baik daripada Institut Teknologi Bandung? Jika kita lihat kolom klasifikasi, ternyata dua universitas ini berbeda jenis menurut QS. Klasifikasi pertama menunjukkan jumlah mahasiswa: L (large) berkisar antara 12.000 dan 30.000 orang: XL (extra large) berarti lebih dari 30.000 orang. Klasifikasi kedua menunjukkan jumlah fakultas: FC (fully comprehensive) menunjukkan jumlah fakultas yang lengkap, termasuk kedokteran; CO (comprehensive) melingkupi lima area fakultas, FO (focused) menunjukkan jumlah area fakultas lebih daripada dua. Jika kurang daripada dua fakultas, dikategorikan SP (Spesialis). Meskipun jumlah mahasiswa dan fakultas berkontribusi pada skor akhir, namun tidak layak membandingkan dua universitas atau lebih yang berbeda klasifikasinya.

( Read more )

4 comments
Jan 19

Pengganti Diagram Feynman

Pagi ini, sebelum melanjutkan sejumlah pekerjaan yang tertunda, saya sempatkan membaca Nature edisi 13 Januari 2011. Tentu saja banyak artikel yang menarik, tapi saya pilihkan satu topik dari rubrik “News & Review” dengan judul artikel Particle physics: Beyond Feynman’s diagrams.

Nature 496 165-166Nature 496 165-166

Fisikawan yang belum pernah menggunakan diagram Feynman seperti koki yang belum pernah pegang pisau. Apalagi jika dia seorang fisikawan partikel, entah itu teoretik atau eksperimental. Di bangku sekolah, diagram Feynman diajarkan (mungkin) di mata kuliah Mekanika Kuantum, atau Teori Medan Kuantum, atau setidak-tidaknya di Fisika Nuklir (saat membahas peluruhan Beta).

Diagram Feynman menceritakan bagaimana menghitung probabilitas interaksi sebuah partikel dengan lingkungannya. Lingkungannya itu bisa jadi sebuah medan atau sejumlah partikel lain. Sebuah proton, misalnya, dalam perjalanannya di ruang angkasa boleh jadi dia berinteraksi dengan partikel-partikel lain (hamburan), mengeluarkan atau menyerap cahaya, atau bahkan berubah (meluruh) menjadi partikel lain. Semua kemungkinan itu digambar dalam diagram Feynman lalu probabilitas dapat dihitung dengan aturan-aturan yang dibuat oleh Feynman.

Semenjak Feynman mempublikasikan diagramnya, generasi fisikawan berikutnya banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari proses hamburan dan kemudian menguji perhitungan mereka di laboratorium. Diagram Feynman dan aturan-aturannya ternyata selain mampu menyederhanakan perhitungan, juga dapat memprediksi banyak hal dengan sangat akurat ketika eksperimental membuktikannya.

Tapi, semua ajian sepertinya memang ada batasnya. Misalnya ketika mempelajari proses hamburan yang melibatkan partikel pengantar gaya kuat “gluon”. Enam gluon saja setidak-tidaknya berkontribusi pada 220 diagram Feynman. Akani-Hamed et al. meng-komputasi-kan Diagram Feynman untuk proses paling sederhana untuk interaksi yang melibatkan gluon ini dan mereka membutuhkan coding puluhan ribu integral matematis! Tapi, Parke dan Taylor (Phys. Rev. Lett. 56, 2459–2460 (1986)) dapat menyelesaikannya dengan solusi akhir hanya terdiri dari tiga suku sederhana.

( Read more )

9 comments
Aug 02

Sensor dan Detektor

Beberapa hari yang lalu saya menonton salah satu sidang skripsi mahasiswa S1 di kampus saya. Topiknya terkait dengan sensor serat optik. Salah satu permasalahan yang menarik perhatian saya adalah “apakah serat optik itu sensor, atau detektor”.

Permasalahan itu dapat disederhanakan lagi menjadi: apa beda sensor dan detektor. Kata “sensor” dan “detektor” sering dipertukarpakaikan dalam bahasa sehari-hari. Karena keduanya terasa masuk akal, sering kali kita tidak mempermasalahkannya.

Namun, apakah keduanya adalah sama?

Permasalahan ini sudah saya dengar semenjak kuliah. Saya tulis artikel ini untuk menjelaskan hal ini, setidak-tidaknya menjadi acuan buat diri saya sendiri.

( Read more )

2 comments
Jun 19

I am using WordPress 3.0 “Thelonious”

It’s great like what you see here. I also give up my previous theme and switch to the new one: twentyten, the default theme of WordPress 3.0 that is used to be Kubric.

I expect this version make my blogging easier, lighter, friendlier, and more freedom.

Even though there are a lot of social networks out there, blog cannot be replaced since only blog gives you the true pleasure of writing. Plurk is cool, Facebook is cool, twitter is cool, but  who can deny that blog is designed to writing stuff?

Blog, the best way you can get to share knowledge…

1 comment
Dec 26

Kilasan Peristiwa Sains 2009

Berikut adalah terjemahan bebas dari berita BBC News – Science news highlights of 2009. Sila dinikmati, atau dikoreksi jika ada terjemahan yang kurang tepat. Buat yang ulang tahun sekarang, anggaplah ini kado dongeng akhir tahun!

* * * * * *

Tahun inilah kita mempelajari proses tabrakan spektakuler di dimensi ruang, dan ilmuwan yang sedang bekerja di bidang eksperimen terbesar di dunia ini puas dengan proses tabrakan tersebut dengan berbagai macam alasan.

Ada gelombang kejut juga di Copenhagen ketika konferensi gagal mencapai kesepakatan atas isu perubahan iklm, pertemuan itu harus terganjal oleh kekuatan-kekuatan utama termasuk Amerika Serikat dan Cina.

Repoter sains BBC Paul Rincon mengulas apa-apa yang telah terjadi tahun ini di dunia sains dan lingkungan.

( Read more )

1 comment
Nov 02

Sudahkah Anda Mencoba MiKTeX 2.8?

Jika belum, cobalah. Jika sudah, gunakanlah seterusnya!

MiKTeX, dibaca Mik-Teh, karya Chrstian Schenk, adalah implementasi TeX di sistem operasi Windows – saudaranya adalah LaTeX yang bekerja di sistem operasi Unix. MikTeX

TeX sendiri adalah sistem penulisan karya Donald Knuth yang diniatkan untuk menulis buku terutama buku yang mengandung banyak persamaan matematika. Jadi, jika Anda mahasiswa fisika atau matematika atau kimia tapi menulis tugas akhir tidak menggunakan TeX, maka jangan sebut diri Anda mahasiswa fisika atau matematika atau kimia, hee hee hee.

Versi terbaru adalah MiKTeX 2.8 yang dirilis 1 September 2009 kemarin, saat kita masih khusyuk berpuasa. MiKTeX 2.8 mendukung sistem operasi Windows Vista dan Seven. Saya tidak tahu apa maksudnya, karena MiKTeX versi 2.4 pun masih tetap dapat bekerja di Vista saya. Mungkin baru terasa berbeda jika kita terlibat dalam pengembangannya, seperti membuat paket dan sejenisnya.

( Read more )

4 comments
Oct 25

Mari Menggunakan Windows Live Writer

Windows Live Writer Whoa… hampir setahun yang lalu saya mendengar nama produk ini, Windows Live Writer (WLW), yang terpasang otomatis setelah saya mengizinkan Windows Update untuk menginstal “Windows Live”. Tidak pernah saya otak-atik karena memang tidak tertarik. Sampai akhirnya saya membaca artikel “Moderate Comments on your WordPress Blog with Windows Live Writer” di blog ditigal inspiration. Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Windows Live Writer. Program ini dapat diunduh di situs Windows LiveTM. Jangan khawatir, WLW gratis kok!

Blog almost anywhere: Writer lets you publish to almost any blog service, including Windows Live, WordPress, Blogger, LiveJournal, TypePad, SharePoint, Community Server, and many more. Don’t have a blog yet? Writer can help you set one up. (http://download.live.com/writer)

WLW menawarkan banyak kebolehan yang memanjakan para blogger, seperti diringkas oleh kuotasi di atas. Anda boleh tengok ulasan produk ini lebih banyak lewat google. Namun, jika Anda praktisi blogger kelas “biasa-saja’’ seperti saya, berikut sejumlah manfaat yang saya dapat dari WLW.

( Read more )

1 comment
Sep 24

Surat Terbuka Untuk Para Pelanggan Telkomsel Flash

Kepada Yth. kawan-kawan para pelanggan Telkomsel Flash

Kawan,

Anda tentu sudah mendapatkan sms dari pihak telkomsel yang berbunyi (saya salin-tempel tanpa mengubah apapun, termasuk tanda bacanya)

Pelanggan yth,sekarang Anda dapat melakukan pengecekan penggunaan Paket Unlimited TELKOMSELFlash dengan SMS, ketik : UL<spasi>INFO,kirim ke 3636 (bebas biaya)Stlh kecepatan diturunkan&ingin mendpt kecepatan normal kembali,Anda dpt membeli paket 50rb(125MB)/100rb(300MB) via SMS.Info lengkap www.telkomsel.com/flash

Saya sendiri menerima sms tersebut pada Time: 17/09/2009 10:09:46.

Kawan,

Itulah jawaban kenapa sejak awal September tahun ini akses internet kita melambat. Bayangkan, fair usage sebesar 2G (paket Basic) diturunkan menjadi 500M. Secara persentase penurunan ini adalah ( Read more )

comment?
Sep 17

Lintas Waktu dengan Aurora Borealis

Baru saja, Ira dan saya secara tidak sengaja menonton film Frequency di televisi kanal Transtv. Menarik, oleh karena itu saya menontonnya sampai habis — tidak lupa, di sela-sela iklan saya sempatkan mengintip sinopsisnya di internet… hehe, I sometimes love being a spoiler.

Cara sutradara menyampaikan cerita sangat menarik; beberapa kali adegan-adegan yang terkesan sepintas disorot dengan detil, seperti zoom-in kamera pada hal-hal kecil atau suara radio menyiarkan berita-berita anyar. Tentu kita segera curiga, lumrah dalam film hal-hal kecil yang disorot berarti informasi penting dalam plot cerita. Memang benar, tapi siapa yang menyangka kalau Aurora Borealis yang disorot di awal (baik visual maupun audio dari siaran berita radio) menjadi kunci dari cerita?

Aurora Borealis di langit Alaska, Amerika Serikat.

Aurora Borealis di langit Alaska, Amerika Serikat.

Aurora adalah fenomena cahaya warna-warni di malam hari yang dapat kita saksikan di langit utara atau selatan. Di langit utara dinamakan Aurora Borealis, untuk di langit selatan dinamakan Aurora Australis. Fenomena ini terjadi karena angin Matahari (solar wind) — kumpulan partikel-partikel bermuatan listrik, seperti elektron (muatan listrik negatif) dan proton (muatan listrik positif), yang berasal dari lapisan atmosfer Matahari — berinteraksi dengan medan magnet Bumi (geomagnetik). ( Read more )

1 comment
Jul 18

Review Film Harry Potter 6

Semalam saya dan istri nonton film Harry Potter and The Half-Blood Prince di bioskop dekat rumah. Yah, terpaksa nonton karena sudah terlanjur menonton lima seri sebelumnya. Hitung-hitung menjadi kelompok penonton yang “duluan” nonton Harry Potter mengingat di Indonesia baru dirilis di bioskop per tanggal 17 Juli. Hehehe…

Durasi filmya sekitar 2 jam  30 menitan, lama waktu yang pantas untuk tiket seharga Rp 20.000,00; tapi belum sebanding dengan Lord of  The Ring: The Return of the King yang sampai 3 jam lebih, wuih! Artikel berikut ini adalah opini dan review pribadi saya tentang film ini. ( Read more )

5 comments