Kebodohan Absolut dalam Riset adalah Absolut

Jika kita merasa pintar saat melakukan riset, itu berarti kita belum benar-benar meriset.

Prof. Martin A. Schwartz,

Salah satu manfaat berlangganan jurnal ilmiah secara fisik adalah kita akan membukanya dari halaman sampul depan sampai sampul akhir. Dari membuka dari halaman awal sampai akhir itu saya menyadari kalau jurnal ilmiah mirip majalah yang umum kita temui. Ada banyak rubrik di dalamnya, termasuk berbagai macam iklan, bakan iklan lowongan pekerjaan.

Saya rutin membuka-buka jurnal dari awal sampai saat masih sekolah di Groningen dan di Osaka. Sambil makan siang di kantin atau di dapur lab, saya ambil satu jurnal dari rak yang menyediakan berbagai macam jurnal ilmiah. Aktivitas ini sulit saya dapatkan ketika hanya mengandalkan jurnal berbasis Internet, saya hanya peduli dengan paper yang sedang saya cari tanpa peduli artikel-artikel lain.

Bagian yang menarik tentu bukan bagian laporan riset, ngapain juga rehat sambil baca sesuatu yang ngejelimet. Yang menarik justru bagian esai yang bercerita tentang pengalaman, pendapat, filsalat ilmuwan-ilmuwan hebat.

Misalnya apa yang ditulis oleh Prof. Martin A. Schwartz di esai Journal of Cell Science, volume 121 (2008), halaman 1771 (Open Access, artikel dapat diunduh bebas), “Pentingnya kebodohan dalam riset ilmiah.” Prof. Schwartz adalah pakar rekayasa biomedis dan biologi sel dari Yale School of Medicine (Yale University), Amerika Serikat.

Prof. Schawrtz bercerita pengalamannya yang selalu merasa bodoh saat masih sekolah doktoral (S3) di Standford University. Menurut beliau, bodoh itu ada dua: bodoh absolut dan bodoh relatif. Bodoh relatif ini yang kita lihat di kelas: ketika ada siswa yang nilai ujiannya lebih tinggi daripada yang lain membuat yang lain bodoh relatif. Siswa yang bisa menjawab ujian dengan benar ini nantinya akan berpikir dirinya pintar dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke jenjang S3. Untuk selesai S3, kita harus meriset. Dan saat meriset inilah kita merasa bodoh, seperti yang dialami secara pribadi oleh Prof. Schwartz.

Jika sebuah ujian hanya menikmati mahasiswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan benar, ini menunjukkan kegagalan para pembimbing.

Continue reading “Kebodohan Absolut dalam Riset adalah Absolut”

Mereka Yang Bermanfaat

Tulisan berikut ini adalah catatan pinggir yang saya tulis terkait poster demo tersebut. Catatan teknis terkait dapat Anda baca di sini.

Energi yang bermanfaat disebut kerja. Dengan kata lain, kerja itu bagian dari energi secara umum. Contoh bagian energi lainnya adalah energi panas, energi listrik, energi nuklir, tapi energen tidak termasuk karena itu adalah merek dagang. 

Dari definisi ini lahir definisi lain: Manusia yang takmenghasilkan kerja sudah pasti adalah manusia yang takbermanfaat. Dia mungkin punya panas (seperti punya pekerjaan), tapi belum tentu dia bekerja (bermanfaat) 🙂

Definisi “bermanfaat untuk kepentingan manusia” ini tentu manusia pula yang menentukan. Memang benar, ini bisa diperdebatkan. Bagi pasukan sekutu saat Perang Dunia II, bom atom yang berasal dari energi nuklir bermanfaat bagi mereka untuk mengalahkan Jerman dan Jepang. Tapi, bagi rakyat Jepang yang menjadi korban tentu tidak akan pernah menerima energi nuklir dalam bentuk bom atom bermanfaat buat mereka.

Mungkin definisi “bermanfaat” yang dapat diterima mayoritas umat manusia adalah terkait produktifitas. Energi yang bermanfaat adalah energi yang dapat meningkatkan produktivitas, seperti meningkatkan hasil panen, mempercepat transportasi, dan menyamankan akomodasi.

Bagaimana cara membuat energi bermanfaat?
Continue reading “Mereka Yang Bermanfaat”

Pemodelan Sederhana Penyebab Alzheimer’s Disease dengan Hidrolisis Ester

Hasil riset hidrolisis ester ini memberi pedoman penting bagi periset di bidang yang sama untuk mempertimbangkan konformasi ACh saat mempelajari mekanisme cholinergic pada kasus Alzheimer’s Disease.

Penulis: Febdian Rusydi
Editor: Ira Puspitasari

Berhati-hatilah dengan konformasi pada keadaan transisi saat mempelajari hidrolisis ester!”

Himbauan ini adalah hasil utama dari studi teoretis yang dilakukan oleh tim kolaborasi riset empat universitas nasional dan satu internasional. Tim tersebut terdiri dari tiga fisikawan, masing-masing dari Universitas Airlangga (UA), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan National University of Singapore (NUS), satu kimiawan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan satu insinyur UA, serta dua mahasiswa magister Institut Teknologi Bandung (ITB). Proyek riset kolaborasi ini dikoordinasi oleh Research Center for Quantum Engineering Design, sebuah pusat kajian studi di UA yang fokus pada aplikasi mekanika kuantum pada kasus-kasus biologis dan medis.

Tim riset menemukan bahwa konformasi pada keadaan transisi (transition state, TS) hidrolisis ester tidak hanya memengaruhi produk, tapi juga laju reaksi. Sebuah reaksi kimia bermula dari reaktan dan berakhir dengan produk. Dua buah reaksi kimia yang bermula dari dua reaktan yang identik dapat menghasilkan dua produk berbeda. Perbedaan ini terjadi karena dua reaksi tersebut menempuh jalur reaksi yang berbeda. Setiap jalur reaksi memiliki satu karakter unik, yaitu TS. Pemilihan keadaan transisi ini adalah fenomena kuantum, yaitu probabilitas: bisa memilih TS “yang ini” atau TS “yang itu”. Meskipun demikian, kita dapat memperbesar probabilitas salah satu TS dengan kontrol faktor lingkungan reaksi seperti tekanan, tingkat keasaman larutan, dan temperatur.

Continue reading “Pemodelan Sederhana Penyebab Alzheimer’s Disease dengan Hidrolisis Ester”

Ke Universitas Jember lagi

Continue reading “Ke Universitas Jember lagi”

Waktunya Para Biolog Menggunakan Fisika Kuantum

Ini adalah saduran saya dari artikel Quantum physics is invading biology di majalah Cherwell, sebuah koran-mahasiswa independen di Oxford University.

Penafian: tulisan ini belum saya edit, kemungkinan masih ada kekeliruan, baik itu teks maupun konteks.

Telah datang masa untuk menggunakan ide-ide mekanika kuantum pada permasalahan biologis.

Biasanya, fisika kuantum itu seperti teman kita yang “kita tahu dia benar, tapi kita berusaha mengabaikannya selama mungkin.” Kita berusaha menjaga ide-ide delusi kita sebab sejauh ini ide-ide tersebut memberikan hasil yang oke. Kita merasa semua baik-baik saja sampai pada satu masa sesuatu salah terjadi dan teman kita itu akan berkata, “Kan sudah saya beri tahu…”

Sayangnya untuk para biolog, masa itu mungkin sudah datang.

Continue reading “Waktunya Para Biolog Menggunakan Fisika Kuantum”