Categories
Al-Islam Astro & Cosmos Coret-moret The Mechanism

Waktu Satu Detik

Yang sudah dapat dipastikan adalah: pergantian hari pada pukul 00:00 tidak memiliki arti fisis.

Kenapa? Karena pada pukul 00:00 ini tidak ada peristiwa fisika yang memenuhi kriteria sebagai penunjuk waktu.

Beda cerita jika pergantian hari adalah pada saat matahari tenggelam.

Mungkin tidak ada besaran fisika yang lebih utama daripada waktu. Saya sudah pernah tulis tentang waktu satu tahun, sekarang saatnya menulis tentang waktu satu detik.

Semua kejadian alam bermula dari benda yang dinamis. Dinamika ditentukan oleh perubahan benda terhadap waktu. Pelangi, misalnya, terjadi karena perubahan kecepatan cahaya oleh butiran-butiran air di udara. Kecepatan adalah keluarga besaran vektor, dia memiliki komponen nilai dan arah. Perubahan kecepatan dapat melibatkan salah satu, atau kedua komponen tersebut. Perubahan kecepatan cahaya oleh butiran-butiran air ini melahirkan kejadian refleksi, refraksi, dan difraksi yang kombinasi ketiganya memberikan pelangi. Jika kecepatan cahaya tidak berubah, pelangi tidak tercipta.

Jika kita tidak dapat mengukur waktu, kita tidak paham dinamika benda. Akibatnya, kita tidak pernah mengerti fenomena alam. Akibatnya, kita tidak pernah tahu bagaimana memanfaatkan fenomena alam. Akibatnya, kita tidak pernah melahirkan teknologi canggih seperti yang kita miliki sekarang ini.

Itu sebabnya, tidak ada besaran fisika yang lebih utama daripada waktu.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah itu waktu? Atau, “time” dalam bahasa Inggris.

Secara etimologi, “waktu” berasal dari bahasa Arab dan “time” dari bahasa Jerman kuno. Keduanya memiliki makna serupa, yaitu interval dari dua peristiwa. Jika dua peristiwa tersebut terjadi berulang-ulang dengan interval yang konstan, peristiwa tersebut dapat dijadikan pengukur waktu.

Categories
Coret-moret

Kebodohan Absolut dalam Riset adalah Absolut

Jika kita merasa pintar saat melakukan riset, itu berarti kita belum benar-benar meriset.

Prof. Martin A. Schwartz,

Salah satu manfaat berlangganan jurnal ilmiah secara fisik adalah kita akan membukanya dari halaman sampul depan sampai sampul akhir. Dari membuka dari halaman awal sampai akhir itu saya menyadari kalau jurnal ilmiah mirip majalah yang umum kita temui. Ada banyak rubrik di dalamnya, termasuk berbagai macam iklan, bakan iklan lowongan pekerjaan.

Saya rutin membuka-buka jurnal dari awal sampai saat masih sekolah di Groningen dan di Osaka. Sambil makan siang di kantin atau di dapur lab, saya ambil satu jurnal dari rak yang menyediakan berbagai macam jurnal ilmiah. Aktivitas ini sulit saya dapatkan ketika hanya mengandalkan jurnal berbasis Internet, saya hanya peduli dengan paper yang sedang saya cari tanpa peduli artikel-artikel lain.

Bagian yang menarik tentu bukan bagian laporan riset, ngapain juga rehat sambil baca sesuatu yang ngejelimet. Yang menarik justru bagian esai yang bercerita tentang pengalaman, pendapat, filsalat ilmuwan-ilmuwan hebat.

Misalnya apa yang ditulis oleh Prof. Martin A. Schwartz di esai Journal of Cell Science, volume 121 (2008), halaman 1771 (Open Access, artikel dapat diunduh bebas), “Pentingnya kebodohan dalam riset ilmiah.” Prof. Schwartz adalah pakar rekayasa biomedis dan biologi sel dari Yale School of Medicine (Yale University), Amerika Serikat.

Jika sebuah ujian hanya menikmati mahasiswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan benar, ini menunjukkan kegagalan para pembimbing.

Prof. Schawrtz bercerita pengalamannya yang selalu merasa bodoh saat masih sekolah doktoral (S3) di Standford University. Menurut beliau, bodoh itu ada dua: bodoh absolut dan bodoh relatif. Bodoh relatif ini yang kita lihat di kelas: ketika ada siswa yang nilai ujiannya lebih tinggi daripada yang lain membuat yang lain bodoh relatif. Siswa yang bisa menjawab ujian dengan benar ini nantinya akan berpikir dirinya pintar dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke jenjang S3. Untuk selesai S3, kita harus meriset. Dan saat meriset inilah kita merasa bodoh, seperti yang dialami secara pribadi oleh Prof. Schwartz.

Categories
Coret-moret My Course

Mereka Yang Bermanfaat

Tulisan berikut ini adalah catatan pinggir yang saya tulis terkait poster demo tersebut. Catatan teknis terkait dapat Anda baca di sini.

Energi yang bermanfaat disebut kerja. Dengan kata lain, kerja itu bagian dari energi secara umum. Contoh bagian energi lainnya adalah energi panas, energi listrik, energi nuklir, tapi energen tidak termasuk karena itu adalah merek dagang. 

Dari definisi ini lahir definisi lain: Manusia yang takmenghasilkan kerja sudah pasti adalah manusia yang takbermanfaat. Dia mungkin punya panas (seperti punya pekerjaan), tapi belum tentu dia bekerja (bermanfaat) 🙂

Definisi “bermanfaat untuk kepentingan manusia” ini tentu manusia pula yang menentukan. Memang benar, ini bisa diperdebatkan. Bagi pasukan sekutu saat Perang Dunia II, bom atom yang berasal dari energi nuklir bermanfaat bagi mereka untuk mengalahkan Jerman dan Jepang. Tapi, bagi rakyat Jepang yang menjadi korban tentu tidak akan pernah menerima energi nuklir dalam bentuk bom atom bermanfaat buat mereka.

Mungkin definisi “bermanfaat” yang dapat diterima mayoritas umat manusia adalah terkait produktifitas. Energi yang bermanfaat adalah energi yang dapat meningkatkan produktivitas, seperti meningkatkan hasil panen, mempercepat transportasi, dan menyamankan akomodasi.

Bagaimana cara membuat energi bermanfaat?
Categories
The Mechanism

Pemodelan Sederhana Penyebab Alzheimer’s Disease dengan Hidrolisis Ester

Hasil riset hidrolisis ester ini memberi pedoman penting bagi periset di bidang yang sama untuk mempertimbangkan konformasi ACh saat mempelajari mekanisme cholinergic pada kasus Alzheimer’s Disease.

Penulis: Febdian Rusydi
Editor: Ira Puspitasari

Berhati-hatilah dengan konformasi pada keadaan transisi saat mempelajari hidrolisis ester!”

Himbauan ini adalah hasil utama dari studi teoretis yang dilakukan oleh tim kolaborasi riset empat universitas nasional dan satu internasional. Tim tersebut terdiri dari tiga fisikawan, masing-masing dari Universitas Airlangga (UA), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan National University of Singapore (NUS), satu kimiawan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan satu insinyur UA, serta dua mahasiswa magister Institut Teknologi Bandung (ITB). Proyek riset kolaborasi ini dikoordinasi oleh Research Center for Quantum Engineering Design, sebuah pusat kajian studi di UA yang fokus pada aplikasi mekanika kuantum pada kasus-kasus biologis dan medis.

Tim riset menemukan bahwa konformasi pada keadaan transisi (transition state, TS) hidrolisis ester tidak hanya memengaruhi produk, tapi juga laju reaksi. Sebuah reaksi kimia bermula dari reaktan dan berakhir dengan produk. Dua buah reaksi kimia yang bermula dari dua reaktan yang identik dapat menghasilkan dua produk berbeda. Perbedaan ini terjadi karena dua reaksi tersebut menempuh jalur reaksi yang berbeda. Setiap jalur reaksi memiliki satu karakter unik, yaitu TS. Pemilihan keadaan transisi ini adalah fenomena kuantum, yaitu probabilitas: bisa memilih TS “yang ini” atau TS “yang itu”. Meskipun demikian, kita dapat memperbesar probabilitas salah satu TS dengan kontrol faktor lingkungan reaksi seperti tekanan, tingkat keasaman larutan, dan temperatur.

Categories
The Others

Ke Universitas Jember lagi