Modal Terbaik Hasil Kuliah

Hari Minggu, 9-Januari yang lalu, saya berbicara di depan perwakilan mahasiswa fisika se-Jawa Timur yang tergabung dalam organisasi FORMASI. Acara ini diadakan di gedung Teater B, kompleks Jurusan Fisika, ITS, Surabaya.

Misi utama saya sebenarnya justru ingin mendengarkan paparan Prof. Andrivo Rusydi yang bersedia datang ke acara tersebut. Karena pembicara kedua tidak bersedia hadir, saya akhirnya berperan sebagai pembicara pengganti.

Tema yang mereka minta menarik, masalah klasik yang umum dicemaskan para mahasiswa: Bagaimana cara lulusan fisika menggunakan apa-apa yang mereka pelajari di bangku sekolah untuk hidup. Continue reading “Modal Terbaik Hasil Kuliah”

Idul Fitri 1435

rusydi_please_forgive_us

Keinginan untuk memulai dengan lembaran baru

rusydi_please_forgive_us

Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas adalah surat favorit saya. Paling sering saya baca dalam salat. Inilah surat yang pertama kali saya hapal karena surat ini sering sekali saya dengar setiap kali ikut salat maghrib berjamaah di masjid semasa kecil dulu. Surat ini menjadi andalan saya kalau tiba-tiba disuruh membaca potongan surat pendek dalam acara Didikan Subuh yang diadakan Taman Pendidikan Al-Quran kompleks rumah kami setiap hari Minggu.

Saya tidak tahu nama surat itu Al-Ikhlas. Kebanyakan Al-Quran di zaman saya kecil tidak menyertakan nama surat dalam bahasa Indonesia, apa lagi Al-Quran yang saya punya saat itu cuma bagian juz 30 saja (Juz ‘Amma). Ketika saya punya Al-Quran dengan terjemahan, saya heran “kok nama suratnya Al-Ikhlas, ga ada satupun kata “ikhlas” dalam surat itu.”

Sebab surat ini turun (Asbabun nuzul) adalah jawaban dari pertanyaan berkenaan dengan sifat-sifat Allah yang disembah umat Islam. Ternyata, Allah itu Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang menyetarai-Nya. Surat ini “memurnikan” keesaan Allah yang sempat diselewengkan oleh sejumlah golongan, bahwa Allah itu berbilang, bahwa Allah itu punya keluarga/bangsa, bahwa ada yang mewarisi ketuhanan Allah di Bumi, dan bahwa ada tuhan-tuhan lain yang setara dengan Allah.

Jadi, mana ikhlasnya?

Continue reading “Surat Al-Ikhlas”

Pahlawan

Pahlawan, secara literal, berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran (KBBI daring). Kebenaran mungkin bisa didebat sebagai sesuatu yang relatif, benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Ini membuat seseorang bisa menjadi pahlawan bagi satu golongan dan menjadi penjahat bagi golongan yang lain. Banyak sekali contohnya, sebut saja Usama Bin Ladin.

Kebenaran itu bisa distandardisasikan, misalkan dengan merujuk pada agama. Ini pun tidak akan lepas dari perdebatan, mau pakai agama yang mana? Sebagai seorang muslim, saya percaya kebenaran yang diajarkan Islam-lah yang betul. Tapi, Islam juga mengajarkan muslim untuk tidak pernah memaksakan kebenaran kepada orang lain. Menyampaikan iya, namanya dakwah, tapi tidak memaksakan. Misalnya, saya paham bahwa standardisasi kebenaran adalah nilai-nilai mulia yang diilhamkan Allah kepada jiwa setiap kita. Setelah bersumpah atas matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, dan jiwa, Allah secara terus-menerus membisikkan nilai-nilai fasik dan takwa kepada jiwa manusia (Asy Syams 1-8). Jadi, nurani kita, tanpa tahu ajaran agama apapun, dapat mengetahui kemuliaan sebuah perbuatan. Contoh: “Meludahi ibu kandung” adalah perbuatan yang tidak mulia tanpa perlu perdebatan apun.

Jadi, seseorang menjadi pahlawan karena keberaniannya melakukan perbuatan-perbuatan yang mulia. Perbuatan itu tentu butuh perjuangan dan perjuangan adalah pengorbanan. Tidaklah berjuang kalau kita tidak mengorbankan sesuatu. Sekolah saja misalnya, seorang siswa yang belajar adalah sebuah perjuangan. Dia memilih untuk belajar, mengorbankan tidurnya, mengorbankan waktu mainnya, mengorbankan hal-hal lain yang dia suka demi belajar.

Tentu saja tidak semua pejuang adalah pahlawan. Karena pembedanya adalah motif perjuangannya, apakah mulia atau tidak.

Dalam konteks sosial masyarakat modern sekarang, standardisasi kebenaran yang diperjuangkan seorang pahlawan telah berubah. Kemuliaan dirasa terlalu abstrak untuk dijadikan standardisasi kebenaran, sehingga dicari sesuatu yang mudah dilihat dan dicerna, yaitu popularitas. Masyarakat cendrung untuk mem-pahlawan-kan orang yang populer, ini telah terjadi semenjak zaman Nabi Nuh dan akan terus terjadi sampai akhir dunia nanti. Sehingga popular menjadi jalan dengan garansi tertinggi bagi siapapun yang ingin menjadi pahlawan. Jadi, ini memang sudah menjadi fitrah bagi kita sebagai makhluk sosial.

Kenapa ingin jadi pahlawan?

Continue reading “Pahlawan”