Pahlawan

Pahlawan, secara literal, berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran (KBBI daring). Kebenaran mungkin bisa didebat sebagai sesuatu yang relatif, benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Ini membuat seseorang bisa menjadi pahlawan bagi satu golongan dan menjadi penjahat bagi golongan yang lain. Banyak sekali contohnya, sebut saja Usama Bin Ladin.

Kebenaran itu bisa distandardisasikan, misalkan dengan merujuk pada agama. Ini pun tidak akan lepas dari perdebatan, mau pakai agama yang mana? Sebagai seorang muslim, saya percaya kebenaran yang diajarkan Islam-lah yang betul. Tapi, Islam juga mengajarkan muslim untuk tidak pernah memaksakan kebenaran kepada orang lain. Menyampaikan iya, namanya dakwah, tapi tidak memaksakan. Misalnya, saya paham bahwa standardisasi kebenaran adalah nilai-nilai mulia yang diilhamkan Allah kepada jiwa setiap kita. Setelah bersumpah atas matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, dan jiwa, Allah secara terus-menerus membisikkan nilai-nilai fasik dan takwa kepada jiwa manusia (Asy Syams 1-8). Jadi, nurani kita, tanpa tahu ajaran agama apapun, dapat mengetahui kemuliaan sebuah perbuatan. Contoh: “Meludahi ibu kandung” adalah perbuatan yang tidak mulia tanpa perlu perdebatan apun.

Jadi, seseorang menjadi pahlawan karena keberaniannya melakukan perbuatan-perbuatan yang mulia. Perbuatan itu tentu butuh perjuangan dan perjuangan adalah pengorbanan. Tidaklah berjuang kalau kita tidak mengorbankan sesuatu. Sekolah saja misalnya, seorang siswa yang belajar adalah sebuah perjuangan. Dia memilih untuk belajar, mengorbankan tidurnya, mengorbankan waktu mainnya, mengorbankan hal-hal lain yang dia suka demi belajar.

Tentu saja tidak semua pejuang adalah pahlawan. Karena pembedanya adalah motif perjuangannya, apakah mulia atau tidak.

Dalam konteks sosial masyarakat modern sekarang, standardisasi kebenaran yang diperjuangkan seorang pahlawan telah berubah. Kemuliaan dirasa terlalu abstrak untuk dijadikan standardisasi kebenaran, sehingga dicari sesuatu yang mudah dilihat dan dicerna, yaitu popularitas. Masyarakat cendrung untuk mem-pahlawan-kan orang yang populer, ini telah terjadi semenjak zaman Nabi Nuh dan akan terus terjadi sampai akhir dunia nanti. Sehingga popular menjadi jalan dengan garansi tertinggi bagi siapapun yang ingin menjadi pahlawan. Jadi, ini memang sudah menjadi fitrah bagi kita sebagai makhluk sosial.

Kenapa ingin jadi pahlawan?

Continue reading “Pahlawan”

Takut

Menurut KBBI, takut adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana. Takut juga memiliki asosiasi dengan takwa — tapi bukan takut jenis ini yang saya bahas.

“Kenapa kita merasa takut?”

Ada banyak sudut pandang yang dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi hanya pada diri kita.

Jalan sendirian di malam yang sepi dan gelap, kita merasa takut. Kita khawatir jangan-jangan ada penjahat yang akan mencelakan kita.

Meloncati jurang membuat kita takut karena jika gagal sampai di seberang kita jatuh dan maut menunggu.

Continue reading “Takut”

Selalu Ada yang Unik dalam Setiap Perjalanan

Bagi saya yang paling menarik dalam sebuah perjalanan jauh adalah fase awal. Klimaksnya mulai dari mengepak barang hingga sampai ke tempat tujuan. Setelah itu biasanya saya dihantui pikiran “waduh, sebentar lagi harus kembali nich.” Tidak jarang perasaan itu merusak liburan saya (jika itu adalah perjalanan liburan).

Setiap perjalanan jauh memiliki keunikannya sendiri. Kali ini saya berharap keunikan itu diberikan oleh iPad 2 saya. iPad ini telah memberikan saya banyak kemudahan baik dalam urusan pekerjaan ataupun hobi. Jadi harapan saya tersebut adalah sesuatu yang wajar. Apalagi kamera dan laptop saya rusak, dua item yang fungsinya dapat dilakukan oleh iPad untuk batas-batas tertentu. Untuk itu, saya beli kredit softbank sebanyak 100 Mb.

Continue reading “Selalu Ada yang Unik dalam Setiap Perjalanan”

iklan: photoloe

Butuh foto pernikahan? foto resepsi sukuran? Atau momen berharga lainnya?

www.photoloe.com

when Moments being captured by the Art right from camera

 

 

Menelaah Ranking Universitas Asia versi QS

Sejumlah kalangan akademis di Indonesia sedang heboh, sebagian senang sebagian menggerutu, terkait dirilisnya Asian University Ranking oleh QS lewat situsnya http://www.topuniversities.com. Untuk di dalam negeri, sampai tiga halaman pertama laman tersebut, ranking universitas diberikan oleh tabel berikut ini.

Ranking Universitas Klasifikasi Skor
50 Universitas Indonesia (UI) XL|FC 67.80
80 Universitas Gadjah Mada (UGM) XL|FC 54.40
86 Universitas Airlangga (UA) L|FC 52.10
98 Institut Teknologi Bandung (ITB) L|CO 47.60
128 Universitas Padjadjaran (Unpad) XL|FO 41.10
134 Institut Pertanian Bogor (IPB) L|FO 40.70

Tentu saja tabel di atas dirancang untuk dapat dipahami dengan mudah oleh para pembaca. Bahwasanya ranking menunjukkan kualitas, semakin kecil ranking berarti semakin berkualitas. Kualitas tersebut dikuantifikasi dalam bentuk skor. Artinya, di dalam negeri, QS meranking Universitas Indonesia sebagai universitas paling berkualitas dengan skor 67.80.

Namun, apakah ini berarti Universitas Indonesia lebih baik daripada Institut Teknologi Bandung? Jika kita lihat kolom klasifikasi, ternyata dua universitas ini berbeda jenis menurut QS. Klasifikasi pertama menunjukkan jumlah mahasiswa: L (large) berkisar antara 12.000 dan 30.000 orang: XL (extra large) berarti lebih dari 30.000 orang. Klasifikasi kedua menunjukkan jumlah fakultas: FC (fully comprehensive) menunjukkan jumlah fakultas yang lengkap, termasuk kedokteran; CO (comprehensive) melingkupi lima area fakultas, FO (focused) menunjukkan jumlah area fakultas lebih daripada dua. Jika kurang daripada dua fakultas, dikategorikan SP (Spesialis). Meskipun jumlah mahasiswa dan fakultas berkontribusi pada skor akhir, namun tidak layak membandingkan dua universitas atau lebih yang berbeda klasifikasinya.

Continue reading “Menelaah Ranking Universitas Asia versi QS”