Apakah BHP adalah Solusi Paling Optimal?

Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Wow! Seperti yang dilansir Jawapos, MK menyatakan bahwa UU BHP bertentangan dengan UUD 1945 dan dibatalkan keseluruhannya.

Saya percaya pasti ada tujuan baik dari BHP. Tulisan Hadi Shubhan di rubrik Opini Jawapos kemarin mencoba menguraikannya. Salah satu tujuan BHP adalah penertiban penyelenggaraan pendidikan tinggi nasional dari praktik-praktik culas. Hadi Subhan menguraikan sejumlah kekhwatiran seperti pada kutipan berikut.

Lahirnya UU itu merupakan amanat UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam UU Sisdiknas dikatakan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk BHP.

Filosofi penyeragaman institusi pengelola pendidikan dalam suatu badan hukum, antara lain, adalah penertiban. Banyak pihak yang berkedok mendidik bangsa, tapi sejatinya mengomersialkan pendidikan. Modusnya, mereka menggunakan yayasan atau satuan lain dalam penyelenggaraan pendidikan.

Berlindung di balik kegiatan pendidikan seperti itu adalah memanfaatkan sifat sosial yayasan. Pertimbangannya, yayasan atau satuan usaha pendidikan diberi banyak insentif dan kemudahan pada bidang perpajakan dan perizinan. Pihak yang memanfaatkan faktor tersebut pada hakikatnya hanya mencari keuntungan dari dalam yayasan atau satuan itu.

Selain itu, tidak sedikit pihak yang memanfaatkan lembaga pengelola pendidikan untuk menadah dana-dana najis, baik dari dalam maupun luar negeri. Dana-dana tersebut tidak digunakan untuk mengembangkan pendidikan, malah dimanfaatkan buat kepentingan pribadi atau golongan maupun misi-misi tertentu di luar pendidikan. Ibaratnya, lembaga tersebut dikelola sebagai wahana untuk mencuci uang.

Solusinya? Ada pada paragraf selanjutnya.

Praktik-praktik semacam itu jelas sangat merugikan, bahkan mencoreng misi utama pendidikan. Praktik tersebut perlu ditertibkan dengan menyeragamkan pengelola pendidikan dalam wadah BHP. Dengan demikian, akuntabilitas dan transparansi dapat dilaksanakan. Ada kewenangan dari pemerintah untuk mengawasi BHP. Selain itu, ada sanksi hukum yang tegas jika terjadi pelanggaran akuntabilitas dan transparansi tersebut.

Pertanyaan saya adalah, apakah segala kekhawatiran seperti yang diungkapkan dalam artikel tersebut tidak memiliki solusi lain selain BHP? Misalnya masalah yayasan bangsat yang menjadikan pendidikan sebagai tempat cuci uang atau komersialisasi. Yayasan semacam ini bakalan ditinggal calon peserta didik. Atau, bila perlu pemerintah dapat mengeluarkan semacam daftar rekomendasi PTN di Indonesia sehingga pihak yang membutuhkan lulusan PTN dapat memilah-milih.

Continue reading “Apakah BHP adalah Solusi Paling Optimal?”

10 Alasan Saya Mencintai Ira (bagian 1)

ira_wedding2Seorang isteri adalah pakaian bagi suaminya, begitu juga sebaliknya. Seorang isteri menjadi penyempurna ibadah suaminya, begitu juga sebaliknya. Dalam kalimat, seorang isteri adalah subjek, seperti suaminya, bukan objek. Seorang isteri adalah pejuang bersama suaminya, meskipun dapat menjadi fitnah, yang tanpanya sang suami seperti pendekar tanpa jurus. Dan daftar ini dapat terus dilanjutkan untuk menggambarkan bagaimana kerennya para isteri.

Sebuah hadits menceritakan, seorang pemuda bertanya siapakah yang harus dihormatinya. “Ibumu,” jawab Rasulullah. “Siapa lagi ya Rasul,” “Ibumu.” “Siapa lagi ya Rasul,” “Ibumu”. “Siapa lagi ya Rasul,” “kemudian Bapakmu.” Rasulullah menjawab tiga kali untuk ibu dan kemudian baru bapak (dan itupun cuma satu kali). Ini bukan berarti si bapak punya tiga isteri sehingga si anak harus menghormati masing-masing ibunya baru bapaknya. Jumlah tiga menunjukkan betapa tingginya kedudukan sang ibu (isteri kita) daripada bapak (kita!)

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Ira, isteri saya, sebagai bagian dari kado ulang tahunnya dan persiapan untuk kado ulang tahun pernikahan kami – inilah konsep “menjamak kado”. Ini adalah sebuah kompilasi perasaan dan pemikiran, sepuluh alasan kenapa Uda mencintaimu. Tentu saja masih banyak alasan lain, cuma biar judulnya keren, cukup dibatasi sampai 10 saja. Angka 10 kan identik dengan sempurna.

Continue reading “10 Alasan Saya Mencintai Ira (bagian 1)”

Soempah Pemoeda Ketjoa

“sebuah catatan renungan untuk diri sendiri”

Soempah Pemoeda,

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe,
tanah Indonesia;

Kedoe:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe,
bangsa Indonesia.

Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean,
Bahasa Indonesia.

Itulah sumpah setia yang diikrarkan para pemuda-pemudi Indonesia pada 28 Oktober 1928 itu yang sekarang tentu sudah menjadi kakek-nenek kita. Nenek saya, dari pihak ibu, pernah menceritakan hingar-bingar di tahun itu. Beliau berusia kurang dari 10 tahun saat itu (kelahiran 1920-an). Jadi ini cerita dari seorang anak kecil di zamannya kepada anak kecil di zaman 1980-an (saya!). Kesimpulan cerita: Heroik! Apalagi cocok dengan apa yang saya dapatkan di bangku sekolah.

Sumpah setia itu ditilik dari ikrar yang tertulis tidak dapat dipungkiri lagi kedahsyatannya. Pengakuan persamaan tanah ibu pertiwi dan bangsa serta penghormatan pada bahasa persatuan. Apa lagi sich yang kita butuhkan untuk meciptakan masyarakat madani selain persatuan tanah, bangsa, dan bahasa?

Kedahsyatan sumpah ini tentu seharusnya melahirkan aksi-aksi yang dahsyat, dalam artian positif. Seperti dahsyatnya Sumpah Palapa yang diikuti aksi-aksi dahsyat Patih Gadjah Mada. Dengan demikain, harusnya tidak akan pernah itu terjadi kerusuhan Ambon, Poso, Dayak, atau pertikaian tanah antara mamak dan kemenakan, tawuran antarsekolah, dan lebih besar lagi represif pemerintah dan aparat kepada rakyatnya sendiri. Kan para pelaku ini semua adalah pemuda (atau setidaknya pernah melewati masa muda), yang sudah mengikatkan diri pada tiga persatuan tadi.

Kalau masih belum jadi pemuda (baca: anak-anak), biarlah tawuran siked, tak mengapalah, hitung-hitung belajar memukul dan lari.

Remaja sudah dianggap pemuda belum, ya? Hehe

Okey, back to the topic.

Aksi dahsyat pemuda memang banyak, tidak dapat kita sangkal. Misalnya saja, sejarah mencatat tumbangnya pengaruh PKI oleh aksi pemuda 66, peringatan dini bobroknya Orde Baru oleh aksi angkatan 78, dan terakhir tentu yang masih segar adalah tumbangnya rezim Orde Baru oleh aksi angkatan 98.

Namun aksi dahsyat ini masih tersaingi dengan aksi-aksi yang tak kalah dahsyat dalam artian negatif. Kerusuhan kerap terjadi, tawuran apa lagi, dan represif rezim berkuasa menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Organisasi pemuda banyak menjadi tempat latihan calon-calon penguasa yang kemudian setelah berkuasa melanjutkan aksi represif kepada rakyat. Rakyat juga tidak kalah berpenyakitnya: budaya konsumtif, maksiat, dan manja!

Tentu akan ada pembelaan: ini bukanlah salah rakyat atau penguasa, namun sistem yang membuat mereka demikian! Jangan khawatir, ini juga tidak salah. Masukkan saja sekalian: penguasa salah, rakyat salah, dan sistem salah. Kalau masih ada kambing hitam lainnya, tambahkan saja ke dalam daftar terdakwa tadi. Hehe

Tapi masak sih, terlalu banyak terdakwa dalam kesalahan ini? Kalau dalam dunia manufaktur, yang namanya akar masalah (root cause) harusnya satu dan itu dapat kita cari dari grafik Pareto. Salah satu sifat akar masalah adalah, jika dia diselesaikan maka berdampak paling signifikan (secara positif) terhadap masalah-masalah lain.

Kira-kira, apa sih akar masalah kepemudaan kita?

Continue reading “Soempah Pemoeda Ketjoa”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430

eidfitr
Dari: Febdian & Ira Rusydi

Tiga Isu Pagi Ini

Dua puluh menit menjelang kuliah Listrik dan Magnet yang saya asuh, saya sempatkan menulis posting ini. Ada tiga isu global yang kebetulan saya ikuti dan ketiga-tiganya sama-sama memberikan hasil pada hari yang sama, yaitu Rabu 5 November 2008 (waktu Indonesia).

Isu pertama jelas adalah menangnya Barrak Obama dalam pemilihan umum Amerika Serikat yang diklaim sebagai yang terbesar (dari sisi partisipan pemilih dan biaya). Saya mengikuti kampanye Obama sejak dua tahun silam, walau tidak mengkliping beritanya. Pada awal-awal pencalonan dirinya, ada juga kejadian di mana Keith Elison, seorang african-america, menjadi muslim pertama  terpilih sebagai anggota kongres di Amerika Serikat. Saat itu saya sering tertukar antara Obama dan Elison. Continue reading “Tiga Isu Pagi Ini”