Mana fisikamu?

Pertanyaan tersebut kembali terulang saat saya menjadi penguji sidang proposal tugas akhir di Departemen Fisika, Universitas Airlangga, Desember 2015 ini.

Bagi mereka yang ikut menonton sidang-sidang yang saya yang menjadi pengujinya mungkin akan mengingat bahwa itu adalah pertanyaan pertama saya.

Proposal-proposal tugas akhir yang disajikan kepada saya oleh para mahasiswa fisika tersebut sama sekali tidak menghadirkan prinsip, atau hukum, atau teori apa dari fisika yang akan mereka gunakan untuk melakukan penelitian.

Mereka adalah para mahasiswa fisika yang berbicara dengan lidah non-fisika. Padahal paling tidak tiga tahun lamanya mereka dilatih berbicara dengan lidah fisika sebelum membuat proposal tugas akhir.

Universitas adalah tempat kita menempa diri untuk memiliki perangai ilmiah. Dan mereka-mereka ini adalah calon-calon sarjana yang akan mengalami krisis identitas keilmiahan.

Persis seperti yang diulas di blog physicsworld.com kemarin: solving your scientific identity crisis.

Continue reading “Mana fisikamu?”