Categories
Coret-moret

Protected: Soal UTS FIN401 1441

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Categories
Coret-moret My Course

Tips Menjawab Soal Fisika

Saya tulis ini untuk membantu para peserta UTS, yang karena pandemi covid-19 ujian dilakukan di rumah masing-masing. Istilah kerennya, take home exam.

Soal-soal yang saya berikan semua berasal dari buku teks. Tidak ada soal karangan sendiri. Kenapa? Karena (1) memastikan kualitas soal, (2) melatih mahasiswa membaca, dan (3) memastikan soal-soal tersebut dapat dikerjakan. Untuk alasan ketiga ini, saya selalu pastikan buku teks pilihan memiliki instruksi/manual solusi. Buku Griffiths “Introduction to Quantum Mechanics,” dan Eisberg “Quantum Physics for Atoms, Molecules, Solid, Nuclei, and Particles” adalah dua buku teks andalan saya.

Kalau manual solusi sudah tersedia, lalu untuk apa tips ini?

Kalau peserta mampu menggunakan manual solusi yang sudah disediakan itu, tentu saya takperlu menulis tips ini.

Kenapa mereka tidak mampu? Karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan.

Apa yang saya tulis di sini adalah untuk membantu peserta mengetahui apa yang mereka kerjakan sehingga manual solusi menjadi bermanfaat.

Baiklah, kita mulai tips pertama.

Fisika adalah ilmu yang mempelajari sesuatu yang bisa dilihat, diraba, dirasa oleh panca indra kita. Itu sebabnya besaran dan satuan seperti nyawa yang tanpa dia fisika takada. Besaran dan satuan ini menjadi pembeda dasar ilmu fisika dan matematika, yang terakhir sudah cukup dengan variabel-variabel saja.

1. Pastikan telah menguasai besaran dan satuan yang ada di dalam soal.

Categories
My Course

Protected: Soal UTS FIT301 1441

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Categories
Al-Islam Astro & Cosmos Coret-moret The Mechanism

Waktu Satu Detik

Yang sudah dapat dipastikan adalah: pergantian hari pada pukul 00:00 tidak memiliki arti fisis.

Kenapa? Karena pada pukul 00:00 ini tidak ada peristiwa fisika yang memenuhi kriteria sebagai penunjuk waktu.

Beda cerita jika pergantian hari adalah pada saat matahari tenggelam.

Mungkin tidak ada besaran fisika yang lebih utama daripada waktu. Saya sudah pernah tulis tentang waktu satu tahun, sekarang saatnya menulis tentang waktu satu detik.

Semua kejadian alam bermula dari benda yang dinamis. Dinamika ditentukan oleh perubahan benda terhadap waktu. Pelangi, misalnya, terjadi karena perubahan kecepatan cahaya oleh butiran-butiran air di udara. Kecepatan adalah keluarga besaran vektor, dia memiliki komponen nilai dan arah. Perubahan kecepatan dapat melibatkan salah satu, atau kedua komponen tersebut. Perubahan kecepatan cahaya oleh butiran-butiran air ini melahirkan kejadian refleksi, refraksi, dan difraksi yang kombinasi ketiganya memberikan pelangi. Jika kecepatan cahaya tidak berubah, pelangi tidak tercipta.

Jika kita tidak dapat mengukur waktu, kita tidak paham dinamika benda. Akibatnya, kita tidak pernah mengerti fenomena alam. Akibatnya, kita tidak pernah tahu bagaimana memanfaatkan fenomena alam. Akibatnya, kita tidak pernah melahirkan teknologi canggih seperti yang kita miliki sekarang ini.

Itu sebabnya, tidak ada besaran fisika yang lebih utama daripada waktu.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah itu waktu? Atau, “time” dalam bahasa Inggris.

Secara etimologi, “waktu” berasal dari bahasa Arab dan “time” dari bahasa Jerman kuno. Keduanya memiliki makna serupa, yaitu interval dari dua peristiwa. Jika dua peristiwa tersebut terjadi berulang-ulang dengan interval yang konstan, peristiwa tersebut dapat dijadikan pengukur waktu.

Categories
Coret-moret

Kebodohan Absolut dalam Riset adalah Absolut

Jika kita merasa pintar saat melakukan riset, itu berarti kita belum benar-benar meriset.

Prof. Martin A. Schwartz,

Salah satu manfaat berlangganan jurnal ilmiah secara fisik adalah kita akan membukanya dari halaman sampul depan sampai sampul akhir. Dari membuka dari halaman awal sampai akhir itu saya menyadari kalau jurnal ilmiah mirip majalah yang umum kita temui. Ada banyak rubrik di dalamnya, termasuk berbagai macam iklan, bakan iklan lowongan pekerjaan.

Saya rutin membuka-buka jurnal dari awal sampai saat masih sekolah di Groningen dan di Osaka. Sambil makan siang di kantin atau di dapur lab, saya ambil satu jurnal dari rak yang menyediakan berbagai macam jurnal ilmiah. Aktivitas ini sulit saya dapatkan ketika hanya mengandalkan jurnal berbasis Internet, saya hanya peduli dengan paper yang sedang saya cari tanpa peduli artikel-artikel lain.

Bagian yang menarik tentu bukan bagian laporan riset, ngapain juga rehat sambil baca sesuatu yang ngejelimet. Yang menarik justru bagian esai yang bercerita tentang pengalaman, pendapat, filsalat ilmuwan-ilmuwan hebat.

Misalnya apa yang ditulis oleh Prof. Martin A. Schwartz di esai Journal of Cell Science, volume 121 (2008), halaman 1771 (Open Access, artikel dapat diunduh bebas), “Pentingnya kebodohan dalam riset ilmiah.” Prof. Schwartz adalah pakar rekayasa biomedis dan biologi sel dari Yale School of Medicine (Yale University), Amerika Serikat.

Jika sebuah ujian hanya menikmati mahasiswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan benar, ini menunjukkan kegagalan para pembimbing.

Prof. Schawrtz bercerita pengalamannya yang selalu merasa bodoh saat masih sekolah doktoral (S3) di Standford University. Menurut beliau, bodoh itu ada dua: bodoh absolut dan bodoh relatif. Bodoh relatif ini yang kita lihat di kelas: ketika ada siswa yang nilai ujiannya lebih tinggi daripada yang lain membuat yang lain bodoh relatif. Siswa yang bisa menjawab ujian dengan benar ini nantinya akan berpikir dirinya pintar dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke jenjang S3. Untuk selesai S3, kita harus meriset. Dan saat meriset inilah kita merasa bodoh, seperti yang dialami secara pribadi oleh Prof. Schwartz.